Alhamdulillah, dokumen patent yang dikirim dari ITS telah didaftarkan di Dirjen HAKI Jakarta, dengan No. P00200900463.

Sistem Diagnosa Osteoporosis Berdasarkan Analisa Kepadatan Tulang Trabeculae pada Citra Panorama Gigi

Penyakit osteoporosis atau keropos tulang merupakan penyakit pengeroposan tulang yang berlangsung secara diam-diam dan terus menerus. Tidak ada gejala apapun, namun apabila penderitanya terjatuh maka tulangnya menjadi mudah retak. Akibatnya banyak penderita yang terhenti aktifitasnya sama sekali atau bahkan meninggal dunia. Disamping itu biaya pengobatan dan perawatannya menelan biaya yang sangat mahal.
Jumlah penderita patah tulang akibat osteoporosis sangat banyak yakni 1,3 juta pada tahun 1990. Bahkan diperkirakan mencapai 4,5 juta pada tahun 2050. US Surgeon melaporkan bahwa hingga tahun 2020 bila tidak ada penangan serius diperkirakan setengah dari jumlah penduduk AS akan terkena osteoporosis. Di Indonesia, hasil analisa Depkes di 14 propinsi melaporkan bahwa penderita osteoporosis telah mencapai sekitar 19,7 persen dari jumlah lansia yang ada. Oleh karena itu 20 September hingga 20 Oktober 2005 Menteri Kesehatan mencanangkannya sebagai Bulan Osteoporosis Nasional.

Patah tulang yang paling sering terjadi akibat osteoporosis adalah pada tulang belakang dan paha yang tentu saja sangat penting bagi kehidupan seseorang. Sedangkan penderitanya mayoritas adalah wanita yang telah memasuki masa menopause. Oleh karena itu dibutuhkan deteksi dini terutama pada wanita pasca menopause agar patah tulang tersebut tidak sampai terjadi. Deteksi dini ini dapat ditindak lanjuti dengan penanganan medis yang sesuai agar penderitanya dapat disembuhkan.

Parameter yang harus diukur untuk menentukan kepadatan tulang adalah Bone Mineral Density (BMD) yang diukur pada tulang belakang dan paha. Scanner yang biasa digunakan untuk mengukur kepadatan tulang adalah Dual-energy X-ray Absorptiometry (DXA). Namun harga DXA sangatlah mahal, sehingga di negara-negara majupun, tidak semua rumah sakit memilikinya. Di samping itu, wanita yang telah memasuki pascamenopause sangat jarang mengunjungi ahli medis dalam rangka mendiagnosa apakah yang bersangkutan beresiko mengalami osteoporosis. Sedangkan mereka yang memeriksakan diri pada umumnya telah mengalami kejadian tertentu akibat osteoporosis. Hal ini berarti keterlambatan dan bukan lagi deteksi dini, sebab penderita sudah terkena osteoporosis. Sementara itu terdapat kecenderungan bahwa mereka ternyata juga sering mengunjungi dokter gigi, bahkan banyak pula yang secara teratur untuk mendapatkan pelayanan pengobatan ataupun perawatan tertentu. Pada saat itulah, para dokter gigi dapat dengan mudah  mengambil citra panorama gigi.

Metode yang kami kembangkan ini mengambil input foto panorama gigi tersebut. Sistem akan membaca beberapa bagian dari trabecular bone pada bagian mandible dan selanjutnya menghitung kecenderungan pengeroposan tulang pada bagian mandible dengan menghitung kepadatan tulangnya. Hasil akhirnya adalah nilai index kepadatan trabecular bone yang akan akan dibandingkan dengan angka threshold yang telah kami tetapkan. Bila index ini lebih dari threshold, maka diasumsikan normal, dan sebaliknya diasumsikan menderita osteoporosis. Metode ini menghasilkan nilai akurasi yang sangat signifikan, yakni sebesar 88%, dengan nilai sensitivitas dan spesifisitas sebesar 92% dan 86,7%.

Eessay writing service

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *